Dr. Keliaopas Krey : SETIAP SUKU DI TANAH PAPUA MEMILIKI FILOSOFI YANG BISA DI DORONG DALAM KEPEMIMPINAN ORGANISASI BEM

 

Dr. Keliopas Krey, S.Pd, M.Si, Wakil Rektor III Universitas Papua

MANOKWARI. ppid.unipa. ac.id. Pernyataan tersebut diatas  disampaikan oleh Dr. Keliopas Krey, S.Pd, M.Si selaku Wakil Rektor III saat Closing statement pada acara penutupan Webinar Pelatihan kepemimpinan bagi  Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas yang diselenggarakan oleh Universitas Papua pada hari sabtu (12/12) secara Daring dan Luring.

Wakil Rektor III mengatakan bahwa Setiap suku di tanah Papua masing-masing memiliki filosofi kepemmpinan tersendiri namun intinya sama yaitu untuk mengayomi dan menjaga keseimbangan organisasi. Misalnya suku-suku di daerah selatan punya kearifan lokal memiliki perahu tanpa seman, untuk menjaga keseimbangan perahu pengemudi harus dudk di tenga. Jadi jangan duduk di ujung/pinggir  perahu nanti perahu terbalik.  Jadi pemimpin harus  ada ditenga-tenga menjaga keseimbangan untuk  menggerakan organisasi yang dipimpin menjadi lebih fokus dan terarah sehingga tujuan dapat tercapai.” kata Kelly Krey.

 

 

Katanya lagi Folosofi lainnya   adalah Daerah utara pulau-pulau seperti  Biak, Yapen, Waropen dan sekitarnya punya perahu pakai najun dan seman tujuannya untuk menyeimbangkan perahu artinya, pemimipin harus seperti najun dan seman kalau Najun patah perahu akan terbalik artinya  menjadi  pemimpin harus seperti seman dan najun jadi penyeimbang dalam organisasi, kalau seorang pemimpin tidak bisa menjaga keseimbangan maka organisasi itu akan hancur”. Filosofi lain pemimpin seperti ikan Inggabouw (Bahasa lokal suku Biak) bahasa sehari-hari sebut  ikan sumpit, biasanya  hidup  dibawah rumah-rumah berlabuh atau di bawah pohon bakau yang sering sumpit/tembak  serangga dengan air kemudia ikan lain yang menikmati/makan serangga tersebut. Seorang pemimpin harus mampu memahami dan memberikan solusi kepada teman-teman lain dalam organisasi bukan memilih diam ketika ada masalah juga berani Mengabaikan kepentingan pribadi demi kebaikan kelompok.

Dalam berorganisasi kemahamahasiswaan  harusnya kearifan  lokal ini yang bisa di dorong sebagai filosofi dalam memimpin organisasi BEM supaya dalam kepemimpinan ada proses yang menunjukkan budaya akademik juga dalam kepemimpinan ada proses persuasive disitu artinya pemimpin harus membujuk orang yang dipimpin untuk membuat hal-hal yang baik dan selalu menjadi penyeimbang kepada orang yang dipimpinan kata Wakil Rektor III. Di akhir  acara penutupan Webinar Kepemimpnan. (m/i)

~humas-unipa~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *