UNIPA Perluas Jangkauan Program Sekolah Sepanjang Hari di Enam Kabupaten Papua Tengah, Catat Peningkatan Literasi hingga 40 Persen

Universitas Papua (UNIPA) terus memperkuat perannya dalam pemerataan pendidikan dasar di wilayah pedalaman Papua melalui Program Sekolah Sepanjang Hari (SSH), sebuah inisiatif pembelajaran intensif yang kini telah menjangkau enam kabupaten di Provinsi Papua Tengah: Intan Jaya, Nabire, Mimika (Kokonao), Deiyai, Dogiyai, dan Puncak. Program yang berjalan sejak November 2025 ini melibatkan ratusan guru pendamping lulusan UNIPA dan perguruan tinggi lain di Tanah Papua, serta tim pendukung dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) dan Fakultas Teknik (FT) UNIPA yang menangani aspek penyediaan air bersih di lokasi-lokasi sasaran.

Menjawab Tantangan Literasi dan Numerasi di Wilayah Terpencil

Program SSH lahir dari keprihatinan atas tingkat literasi dan numerasi siswa sekolah dasar di pedalaman Papua yang berada jauh di bawah rata-rata nasional, diperparah oleh kondisi geografis yang berat, akses yang terbatas, dan minimnya tenaga pendidik berkualitas. Untuk menjawab persoalan itu, tim pelaksana menerapkan pendekatan Teaching at the Right Level (TaRL), yaitu metode pembelajaran yang mengelompokkan siswa berdasarkan kemampuan aktual membaca, menulis, dan berhitung — bukan berdasarkan usia atau tingkat kelas.

Setiap hari, siswa mengikuti sesi pembelajaran pagi yang terstruktur sesuai kurikulum literasi dan numerasi dasar, dilanjutkan pendampingan sore untuk penguatan individual, serta diakhiri evaluasi harian oleh guru pendamping. Di sejumlah lokasi seperti SD Inpres Nifasi (Nabire) dan SD YPK Mara Hariti (Nabire), pembelajaran bahkan memadukan pendekatan indoor learning di kelas dan outdoor learning di area terbuka seperti pantai, guna menciptakan pengalaman belajar yang lebih variatif.

Hasil: Literasi Naik 40 Persen, Kapasitas Guru Lokal Meningkat

Di Kabupaten Intan Jaya, laporan akhir program periode November 2025–Maret 2026 mencatat peningkatan kemampuan literasi siswa sebesar 40 persen dan numerasi sebesar 35 persen. Program ini juga berhasil meningkatkan kapasitas 24 guru pendamping dalam menerapkan metode TaRL, sekaligus menumbuhkan budaya evaluasi dan refleksi harian di sekolah-sekolah sasaran.

Hasil serupa terlihat di Distrik Mimika Barat, Kabupaten Mimika. Evaluasi diri program SSH di SDN Kokonao dan SD YPPK St. Fransiskus Xaverius Kokonao — dua dari sembilan sekolah percontohan SSH di Papua Tengah — mencatat nilai akhir 73,88 persen dengan kategori “Baik”. Aspek manajemen dan dukungan program, serta kualitas sumber daya manusia pelaksana, tercatat sebagai kekuatan utama, masing-masing meraih kategori “Sangat Baik”. Di Kabupaten Dogiyai, pengukuran pre-test dan post-test kemampuan calistung (baca, tulis, hitung) turut menunjukkan lompatan signifikan di seluruh tingkatan pembelajaran, disertai peningkatan kehadiran dan rasa percaya diri siswa yang sebelumnya cenderung pasif di kelas.

Di Kabupaten Nabire, program menjangkau 122 siswa di SD Inpres Nifasi (Distrik Makimi) dan 49 siswa di SD YPK Mara Hariti (Distrik Moore), dengan total 11 guru pendamping dari lulusan FKIP maupun non-FKIP, baik dari UNIPA maupun perguruan tinggi lain. Sementara di Kabupaten Puncak, SSH hadir di SD Inpres Kago yang menampung siswa dari tujuh sekolah dasar pengungsi, dengan akses lokasi yang ditempuh melalui jalur udara dari Timika — salah satu tantangan logistik terberat dalam pelaksanaan program.

Pemenuhan Gizi dan Pembentukan Karakter Jadi Bagian Integral

Selain aspek akademik, SSH juga mengintegrasikan pemberian makan bergizi berbasis pangan lokal dan nasional — mulai dari sarapan (ubi, pisang, jagung rebus), makan siang (papeda, ikan, telur, sayur, buah), hingga camilan sore — serta pembinaan karakter seperti kedisiplinan, kepedulian lingkungan, dan sikap religius. Di Kabupaten Deiyai, dapur SSH bahkan turut menyerap hasil pertanian lokal berupa sayur, ubi, ikan, dan udang, yang secara tidak langsung mendorong perputaran ekonomi pasar setempat.

Tim Air Bersih FMIPA dan FT: Menjawab Persoalan Infrastruktur Dasar

Di balik capaian akademik, seluruh laporan dari enam kabupaten secara konsisten menyoroti satu tantangan yang sama: keterbatasan air bersih, listrik, dan sanitasi di lokasi-lokasi SSH. Menjawab hal ini, Tim Air Bersih yang beranggotakan dosen dan mahasiswa FMIPA serta FT UNIPA melakukan survei kualitas dan kuantitas sumber air di berbagai titik, termasuk Kampung Kokonao (Mimika) dan Kabupaten Intan Jaya, mencakup pengujian parameter fisika, kimia, dan biologi air sumur maupun sungai.

Dari hasil survei tersebut, tim merealisasikan sejumlah pembangunan fasilitas pendukung, di antaranya menara air di SD YPK Mara Hariti (Nabire), dapur SSH di SD Inpres Waghete (Deiyai), rehabilitasi bak air di SD YPPK Bilogai (Intan Jaya), pembangunan depot air minum reverse osmosis (RO) di SD YPPK Bilogai dan SD Negeri Nifasi, serta fasilitas toilet baru di SD YPPK Bilogai. Pekerjaan lanjutan untuk sejumlah depot air minum RO di lokasi-lokasi SSH lainnya masih terus berjalan.

Rekomendasi Keberlanjutan

Dari seluruh laporan, tim pelaksana di masing-masing kabupaten menyampaikan rekomendasi yang relatif seragam untuk keberlanjutan program: perluasan SSH ke sekolah-sekolah lain yang membutuhkan, penguatan pelatihan berkelanjutan bagi guru pendamping, peningkatan sarana dan prasarana vital seperti air bersih, listrik, dan konektivitas internet, serta penguatan kolaborasi lintas sektor antara pemerintah daerah, UNIPA, gereja, komite sekolah, dan orang tua siswa.

Program SSH merupakan wujud nyata komitmen UNIPA menghadirkan pendidikan holistik bagi anak-anak di pedalaman Papua, sejalan dengan semangat Pro Humanitate Scientia — ilmu untuk kemanusiaan — yang menjadi motto almamater UNIPA dalam mengabdikan keilmuannya bagi masyarakat Tanah Papua.