MEMBUMIKAN RISET DAN BIODIVERSITAS PAPUA: PRODI BIOLOGI UNIPA SELENGGARAKAN PELATIHAN JURNALISME SAINS

MANOKWARI, PAPUA BARAT. www.unipa.ac.id  โ€”Sebagai bentuk manifestasi tridharma perguruan tinggi dan tindak lanjut dari semangat Biology Publication, Program Studi (Prodi) Biologi Universitas Papua (Unipa) menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Jurnalisme Sains. Kegiatan ini diinisiasi sebagai instrumen strategis untuk diseminasi informasi publik, bertempat di Ruang Biologi, Fakultas MIPA Unipa, pada Jumat, 16 Oktober 2026. Acara tersebut diikuti secara antusias oleh seluruh mahasiswa Prodi Biologi, baik dari semester awal maupun akhir.

Ketua Panitia Pelaksana dari Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Biologi, Maria Silva Papuani Sraun, dalam laporan kegiatannya menyampaikan bahwa pelatihan ini berakar dari urgensi membumikan riset dan gagasan ilmiah. Tujuannya agar produk akademik dan riset biologi tidak hanya berhenti pada ranah literatur ilmiah internal, melainkan mampu menjangkau khalayak luas secara komunikatif melalui media massa.

Pelatihan ini menghadirkan narasumber kompeten di bidangnya, yakni Hans Arnold Kapisa, S.Si., yang merupakan alumni Fakultas MIPA Unipa sekaligus praktisi jurnalis di Tribun News Papua Barat. Dalam pemaparannya, narasumber menekankan pentingnya penguasaan teknik penulisan ilmiah populer agar temuan riset dapat ditransformasikan menjadi narasi yang bernilai berita tinggi tanpa mereduksi esensi ilmiahnya.

Selain itu, ditekankan pula pentingnya posisi strategis riset primer: meskipun teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kian berkembang pesat, AI pada esensinya hanya mengolah data sekunder dari riset terdahulu. Oleh karena itu, mahasiswa Biologi didorong untuk terus melakukan riset lapangan secara intensif guna menggali dan mengungkapkan kekayaan biodiversitas Papua yang belum terjamah.

Sesi diskusi interaktif dalam pelatihan ini mencatatkan temuan lapangan yang substansial dari mahasiswa yang melakukan penelitian di salah satu kampung di Kabupaten Sorong Selatan. Diskusi tersebut mengupas fenomena perkawinan campur antara Orang Asli Papua (OAP) dan non-OAP yang memiliki implikasi sosiologis terhadap pengakuan hak adat serta dinamika pembagian wilayah adat, baik dalam lingkup kekerabatan keluarga maupun antarkampung.

Temuan ini membuktikan bahwa ekosistem penelitian biologi di Papua memiliki kompleksitas tinggi, di mana aspek konservasi lingkungan senantiasa bersinggungan secara langsung dengan dinamika sosial, kultural, dan antropologis masyarakat setempat.

Menutup rangkaian kegiatan, Maria Silva Papuani Sraun menyampaikan harapan institusionalnya agar program ini menjadi titik pijak yang berkelanjutan. “Kami berharap keterampilan dan karya tulis yang dihasilkan dari kegiatan ini menjadi awal yang berkelanjutan bagi publikasi mahasiswa Biologi Unipa di media massa demi kemajuan ilmu pengetahuan dan kemaslahatan masyarakat luas,” pungkasnya, (m/i)

โ€Ilmu Untuk Kemanusiaanโ€