Universitas Papua Luluskan Doktor Baru Ilmu Lingkungan, Temukan Genotip Ubi Jalar Unggul Papua Barat

MANOKWARI โ€“ Universitas Papua (UNIPA) kembali mengukuhkan seorang Doktor Ilmu Lingkungan melalui sidang ujian terbuka promosi doktor yang ke-34 pada hari Jumat, 19 Juni 2026. Sidang yang bertempat di Ruang Aula Program Pascasarjana UNIPA ini dipimpin (dibuka dan ditutup) oleh Prof. Dr. Hugo Warami selaku Rektor Universitas Papua, sementara Ketua Tim Penguji diketuai oleh Prof. Dr. Ir. Saraswati Prabawardani, M.Sc.

Promovendus dalam sidang ini adalah Agustinus Warbal, seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang telah mengabdi di bidang pertanian selama 30 tahun. Ia berhasil mempertahankan disertasinya di hadapan dewan promotor dan penguji, serta dinyatakan lulus dengan nilai 86.

Fokus Disertasi dan Temuan Unggulan

Disertasi yang dipertahankan berjudul “Interaksi Genotip dan Lingkungan Terhadap Komponen Agromorfologi, Stabilitas Hasil dan Analisis Molekuler Beberapa Genotip Ubi Jalar pada Ekosistem Dataran Tinggi dan Dataran Rendah di Papua Barat”. Ujian ini diketuai oleh Prof. Dr. Ir. Saraswati Prabawardani, M.Sc. selaku promotor, didampingi oleh Prof. Dr. Ir. Eko Agus Martanto, M.P., dan Dr. Ir. Noke Lenda Mawikere, M.Si. sebagai kopromotor.

Dalam presentasinya, Dr. Agustinus Warbal memaparkan beberapa temuan penting yang berpotensi besar bagi ketahanan pangan, di antaranya:

  • Pengujian di Ekosistem Kontras: Penelitian dilakukan di dua ekosistem yang berbeda, yakni dataran tinggi di Distrik Anggi, Pegunungan Arfak, dan dataran rendah di Distrik Prafi, Manokwari.
  • Dua Genotip Beradaptasi Luas: Ditemukan dua genotip ubi jalar unggul yang beradaptasi luas, yaitu UM 2 (Ungu Manokwari 2) dan Amban Pantai 1.
  • Produktivitas Tinggi: Kedua genotip tersebut memiliki stabilitas hasil yang baik dan produktivitas yang sangat tinggi, mencapai rata-rata 46,8 ton per hektar.
  • Pengaruh Genetik dan Lingkungan: Karakteristik seperti diameter umbi dan kadar brix terbukti sangat stabil dan dikendalikan oleh faktor genetik, sementara jumlah dan panjang umbi lebih didominasi oleh pengaruh lingkungan.

Mendorong Ubi Jalar Menjadi Varietas Nasional

Sidang ini juga diwarnai dengan diskusi kritis bersama para penguji, termasuk penguji eksternal Dr. Benediktus Heri Wijayanto, S.P., M.Si., yang menjabat sebagai Kepala Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Papua Barat. Diskusi menyoroti pentingnya ubi jalar di tengah program swasembada pangan nasional yang saat ini sangat berorientasi pada beras dan cetak sawah.

Agustinus menekankan bahwa dari sekitar 1.300 aksesi ubi jalar di Papua, sejauh ini baru nama “Salossa” dan “Pattipi” yang secara resmi dilepas sebagai varietas oleh Kementerian Pertanian. Ia mendorong adanya keseriusan dan komitmen dari pemerintah daerah maupun pusat untuk segera mendaftarkan genotip UM 2 dan Amban Pantai 1 agar statusnya naik dari sekadar “aksesi” menjadi “varietas resmi”. Langkah strategis ini sangat diperlukan agar komoditas ubi jalar bisa mendapatkan pembiayaan dan perhatian pengadaan dalam skala nasional guna mencegah kerawanan pangan.

Dedikasi Tanpa Batas

Pencapaian gelar doktor ini memiliki makna emosional yang mendalam. Dr. Agustinus Warbal berhasil mencapai titik akademik tertinggi ini pada masa injury time atau sekitar dua hingga tiga bulan menjelang masa purna tugasnya (pensiun) sebagai ASN.

Selain itu, dalam pidato penutupnya, ia menyampaikan rasa syukur dan haru karena perjuangan pendidikannya beriringan dengan perjuangannya membesarkan kelima anaknya seorang diriโ€”bertindak sebagai ayah sekaligus ibuโ€”setelah sang istri tercinta berpulang.

Acara ditutup secara resmi oleh Rektor UNIPA Prof. Dr. Hugo Warami yang menyematkan selempang doktor dan menyerahkan berita acara kelulusan, yang kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama serta penyampaian ucapan selamat dari para tamu undangan. Keberhasilan ini diharapkan dapat memicu langkah nyata pemerintah dalam melestarikan dan mengembangkan kekayaan genetik ubi jalar lokal Papua.