SAMBUT ERA MASYARAKAT 5.0, FAKULTAS KEHUTANAN UNIPA ROMBAK KURIKULUM BERBASIS OBE

MANOKWARI, Papua Barat – Fakultas Kehutanan Universitas Papua (UNIPA) mengambil langkah strategis dalam merespons tantangan transisi global menuju Era Masyarakat 5.0 (Society 5.0). Pada Kamis (25/6/2026), bertempat di Aula Fahutan UNIPA Manokwari, fakultas ini secara resmi menyelenggarakan Lokakarya Kurikulum Berbasis Outcome-Based Education (OBE)—sebuah pendekatan pendidikan yang berfokus pada apa yang benar-benar bisa dilakukan oleh mahasiswa setelah lulus, bukan sekadar apa yang mereka pelajari di kelas.

Untuk mengawal transformasi kurikulum ini, UNIPA menghadirkan pakar kurikulum nasional yang juga menjabat sebagai Direktur Kajian dan Inovasi Akademik Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Hatma Suryatmojo.

Acara ini dibuka langsung oleh Rektor UNIPA, Prof. Dr. Hugo Warami, S.Pd., M.Hum. Dalam sambutannya, Prof. Hugo menekankan bahwa penerapan kurikulum OBE di Fahutan harus tetap berpijak pada karakteristik unik dan kekayaan alam Papua. Selain itu, kurikulum baru ini akan disinergikan dengan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI) untuk memastikan rekam jejak kompetensi mahasiswa tersertifikasi dengan baik saat memasuki dunia kerja.

Pada kesempatan yang sama, Rektor juga membagikan kabar baik mengenai perkembangan regulasi internal kampus.

“Kita sedang mempersiapkan perubahan nama atau nomenklatur dari statuta kita, sehingga nama Fakultas Kehutanan ada tambahan lagi menjadi Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan,” ungkap Prof. Hugo Warami. Perubahan ini diharapkan memperluas cakupan akademik dan relevansi riset UNIPA di tingkat global.

Dekan Fakultas Kehutanan UNIPA, Dr. Elieser Sirami, S.Hut., M.Si., menyatakan bahwa kurikulum OBE adalah jawaban nyata agar lulusan tidak hanya menguasai teori, tetapi juga adaptif, inovatif, dan mampu memecahkan masalah nyata di lapangan.

Menariknya, lokakarya ini tidak hanya berbicara tentang proyeksi masa depan, tetapi juga menyelesaikan hambatan internal, salah satunya adalah isu efisiensi masa studi atau fenomena mahasiswa yang mendekati batas waktu kelulusan (drop-out). Dr. Sirami berharap lokakarya ini segera melahirkan Peraturan Dekan dan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) yang lebih terstruktur. Lanjutnya lagi  “Kita harus optimis bahwa sistem baru ini akan membantu mahasiswa menyelesaikan studinya tepat waktu tanpa mengurangi kualitas akademik”.

Melalui lokakarya ini, Fahutan UNIPA menegaskan kembali komitmennya untuk mencetak rimbawan masa depan yang siap menjaga kelestarian alam sekaligus memimpin inovasi teknologi, selaras dengan semboyan universitas: “Ilmu Untuk Kemanusiaan.”

(m/i)