DARI AGRIS PROEF STATION HINGGA UNIPA: NARASI PERJUANGAN IDENTITAS DAN PENDIDIKAN TINGGI DI TANAH PAPUA

MANOKWARI, PAPUA BARAT. www.unipa.ac.id  โ€” Universitas Papua (UNIPA) menyelenggarakan Rapat Senat Terbuka memperingati Dies Natalis ke-26 pada Senin (3/11/2026) di Manokwari. Momen krusial ini tidak sekadar menjadi perayaan inkremental usia institusi, melainkan ajang refleksi atas narasi panjang perjuangan identitas dan pengembangan pendidikan tinggi di Tanah Papua.

Dalam pidato akademiknya, Rektor UNIPA, Prof. Dr. Hugo Warami, S.Pd., M.Hum., menguraikan trajektori sejarah institusi yang membentang melintasi berbagai dinamika sosiopolitik. Akar ontologis UNIPA bermula dari berdirinya Agris Proef Station (APM) atau Lembaga Penelitian Pertanian Manokwari pada 16 Maret 1961 oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Institusi riset agrikultur kawasan Asia-Pasifik tersebut kini meninggalkan peninggalan fisik berupa Gedung Rektorat Lama UNIPA.

“Apabila kita menarik garis genealogis dari Agris Proef Station, maka kontinuitas kiprah riset institusi ini telah mencapai usia 65 tahun. Jika dihitung dari momentum historis perkuliahan perdana Fakultas Pertanian Universitas Cenderawasih pada 5 Oktober 1964, usia akademisnya memasuki 64 tahun. Adapun sebagai entitas yuridis mandiri berstatus Universitas Papua, hari ini kita memperingati Dies Natalis ke-26 sejak ditetapkan pada 3 November 2000,” ujar Prof. Hugo.

Evolusi kelembagaan ini mencapai titik baliknya pada era Reformasi tahun 2000, ketika Fakultas Pertanian Uncen bermetamorfosis menjadi sebuah perguruan tinggi negeri yang mandiri. Proses penentuan identitas institusi tersebut diwarnai pergulatan wacana intelektual dan kultural, di mana muncul tiga perimbangan nama: Universitas Mansinam, Universitas Arfak, dan Universitas Papua.

Bersamaan dengan langkah reformis Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang mengembalikan nama Papua dari Irian Jaya, para tokoh adat, akademisi, dan elemen masyarakat sipil memperjuangkan penetapan nama Universitas Papua. Pilihan nama tersebut direfleksikan bukan sekadar sebagai penanda geografis, melainkan simbol simbolis pengakuan identitas, martabat, dan komitmen terhadap pencerdasan masyarakat di Tanah Papua.

Melalui perjalanan dari stasiun riset agrikultur kolonial hingga menjadi benteng intelektual daerah, UNIPA menegaskan perannya sebagai pilar utama transformasi keilmuan dan kebudayaan di kawasan Indonesia Timur. tutur mantan dekan Fakultas Sastra Unipa (m/i)

โ€Ilmu Untuk Kemanusiaanโ€