MANOKWARI, PAPUA BARAT. www.unipa.ac.idโ Kolaborasi riset internasional antara Universitas Papua (UNIPA) dan Australian Museum mencatatkan kontribusi signifikan dalam upaya pemetaan dan pelestarian keanekaragaman hayati ekosistem Vogelkop (Kepala Burung), Papua. Capaian serta implikasi ilmiah dari penelitian lintas lembaga ini dipaparkan dalam gelaran Kuliah Tamu II bertajuk “From Mountains to Lowlands: Exploring Non-Volant Mammals in Vogelkop” yang menghadirkan Peneliti asal Republik Ceko, Frantisek Vejmelka, Ph.D., di Ruang Arfak Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNIPA pada Rabu (4/11/2026).

Eksplorasi ekologis tersebut berfokus pada dua zonasi ekosistem dengan karakteristik topografi berlawanan, yakni kawasan pegunungan tinggi di Pegunungan Arfak dan ekosistem dataran rendah di Mubrani, Kabupaten Tambrauw. Pemilihan kawasan Vogelkop didasari oleh predikat wilayah tersebut sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati (biodiversity hotspot) global dengan tingkat endemisme fauna yang sangat tinggi.
Dosen dan Peneliti Mamalia Papua UNIPA, Dr. Ursula Maker, menegaskan bahwa kemitraan strategis ini tidak hanya berorientasi pada inventarisasi taksonomi, tetapi juga transfer metodologi penelitian sains bagi akademisi lokal.
“Melalui kerja sama berbasis survei lapangan ini, kami mengadopsi berbagai metodologi keanekaragaman hayati mutakhir. Rekam jejak kolaborasi ini sebelumnya telah mencakup wilayah Yapen hingga berbagai bentang alam di Vogelkop, yang secara signifikan memperkaya basis data spesies endemik lokal,” ungkap Dr. Ursula.

Secara akademis, minimnya dokumentasi empiris dan data dasar (baseline data) mengenai mamalia non-volan (mamalia tidak bersayap) di Papua selama ini menjadi kendala utama dalam perumusan strategi konservasi yang terukur. Kehadiran tim peneliti gabungan ini sekaligus menjadi sarana kapabilitas riset (research capacity building) bagi mahasiswa dan staf pengajar UNIPA. Keberhasilan transfer pengetahuan ini terbukti dari munculnya peneliti muda Papua, seperti Via Dolorosa, alumni Biologi UNIPA yang kini fokus mengeksplorasi Taksonomi Rodentia secara mandiri.

Menguatkan dimensi keberlanjutan hasil riset tersebut, Peneliti Ekologi Herpetofauna UNIPA, Dr. Keliopas Krey, menyampaikan bahwa dokumentasi ilmiah keanekaragaman hayati merupakan fondasi utama pembangunan berbasis lingkungan di Tanah Papua.
“Konstruksi pengetahuan ekologis yang kita bangun hari ini akan memperjelas dinamika ekosistem lokal. Pemahaman komprehensif ini menjadi instrumen esensial dalam merumuskan kebijakan pembangunan berkelanjutan di Papua,” tegas Dr. Keliopas.
Hasil survei dan analisis data keanekaragaman hayati ini diproyeksikan menjadi rujukan akademis bagi pemangku kebijakan (stakeholders) dalam merancang regulasi perlindungan kawasan konservasi. Langkah ini sangat krusial guna mempertahankan ekosistem Papua sebagai Land of Unique Life serta menjamin kelestarian plasma nutfah spesies endemik Vogelkop di habitat aslinya bagi generasi mendatang. (m/i)
โIlmu Untuk Kemanusiaanโ


