MANOKWARI — Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Papua (UNIPA) menyelenggarakan kegiatan strategis bertajuk “Workshop Dokumentasi Bahasa dan Pengetahuan Etnobiologi Daerah”. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Rektor UNIPA, Prof. Dr. Hugo Warami, S.Pd., M.Hum, di Manokwari, Rabu (18/2).
Workshop yang berlangsung selama empat hari hingga 21 Februari 2026 ini menghadirkan tiga pakar internasional: Dr. Sonja Riesberg dan Dr. Dr. Aung Si dari University of Cologne (Jerman), serta Matthew Micyk, MA dari CNRS-LaCITO (Perancis). Kolaborasi ini menyoroti pendekatan biolinguistik, sebuah sinergi antara ilmu biologi dan linguistik untuk menyelamatkan pengetahuan lokal Papua.
Dampak Besar bagi Mahasiswa: Dari Skripsi hingga Hibah Riset

Salah satu sorotan utama dari workshop ini adalah besarnya manfaat langsung yang dapat dirasakan oleh mahasiswa UNIPA. Yusuf, perwakilan dari Center for Endangered Languages Documentation (CELD), menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan pintu gerbang menuju peluang akademis dan profesional yang lebih luas.
- Dukungan Penuh untuk Skripsi Mahasiswa yang terlibat dalam proyek dokumentasi bahasa ini dapat menjadikan hasil lapangan mereka sebagai bahan tugas akhir atau skripsi. Dengan demikian, mahasiswa tidak perlu bingung mencari topik penelitian, karena data yang diambil sudah memenuhi standar ilmiah. “Mahasiswa ikut melakukan dokumentasi bahasa sekaligus menulis skripsi,” jelas Yusuf.
- Akses ke Hibah (Grant) dan Beasiswa Program ini membuka peluang bagi mahasiswa untuk mendapatkan pendanaan riset. Yusuf mencontohkan keberhasilan mahasiswa sebelumnya yang mendapatkan grant atau beasiswa untuk mendokumentasikan bahasa ibunya sendiri. “Dulu ada mahasiswa yang dapat grant, mengerjakan bahasanya sendiri, dan sekarang kami punya dokumentasinya,” tambahnya.
- Kolaborasi Kelas Dunia Rektor UNIPA, Prof. Hugo Warami, mendorong mahasiswa untuk tampil aktif agar dilirik oleh para peneliti asing. Mahasiswa berprestasi memiliki peluang untuk diajak berkolaborasi dalam proyek-proyek lanjutan, bahkan hingga ke luar negeri. “Kalau itu terbaik, siapa tahu bisa ajak berkolaborasi lagi untuk proyek-proyek selanjutnya,” ujar Rektor.

Mencetak Peneliti Berstandar Internasional
Selain keuntungan materiil, mahasiswa juga dibekali dengan keterampilan langka. Melalui workshop ini, mereka dilatih menggunakan perangkat lunak khusus dan metodologi dokumentasi digital yang diakui secara global.
“Kalau kita buat dokumentasi di sini, data kita itu bisa dibaca di Eropa dengan cara yang sama karena standarnya sama,” ungkap Yusuf. Hal ini menjadikan lulusan UNIPA memiliki kompetensi yang setara dengan peneliti di lembaga riset internasional.

Sinergi Sains dan Kemanusiaan
Dr. Sonja Riesberg menjelaskan bahwa workshop ini merupakan bagian dari inisiatif DOCULIC (Documenting Language and Ethnobiological Knowledge), yang akan berjalan selama tiga tahun ke depan. Program ini tidak hanya mendokumentasikan bahasa, tetapi juga pengetahuan etnobiologi (pengetahuan masyarakat tentang alam), sejalan dengan moto UNIPA, Ilmu untuk Kemanusiaan.
Dengan adanya workshop ini, Fakultas Sastra dan Budaya UNIPA berharap dapat melahirkan generasi baru peneliti Papua yang cakap teknologi, berwawasan global, namun tetap berakar kuat pada pelestarian budaya lokal.



