MANOKWARI – Rektor UNIPA Prof. Dr. Hugo Warami bersama peneliti dari Mochtar Riady Institute for Nanotechnology (MRIN) bersepakat untuk menjalin kolaborasi riset terkait genetika, sejarah migrasi, dan kesehatan manusia di Tanah Papua. Pertemuan inisiasi kerja sama ini dihadiri langsung oleh Peneliti Senior MRIN, Prof. Herawati Sudoyo beserta tim, Rektor UNIPA, serta Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Papua Barat, Charlie.

Prof. Herawati Sudoyo menjelaskan bahwa kolaborasi ini bertujuan untuk mempelajari lebih dalam mengenai manusia Indonesia, khususnya di Papua, serta menelusuri bagaimana proses migrasi leluhur terjadi di masa lampau. Riset ini tidak hanya berfokus pada bidang genetika, tetapi akan menggunakan pendekatan multidisiplin yang mencakup antropologi, linguistik (bahasa), sosial budaya, dan lingkungan.

“Kami akan mencoba untuk mulai penelitian ini bulan Juli. Kita akan bikin seminar dulu, baru kemudian kita akan terjun ke lapangan,” ungkap Prof. Herawati. Ia juga membawa tim peneliti muda untuk memastikan keberlanjutan riset jangka panjang.
Rektor UNIPA menyambut antusias inisiatif kerja sama ini dan menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi kebutuhan riset. Beliau langsung menginstruksikan Wakil Rektor 4 Bidang Kerja Sama untuk segera memproses dan memformalkan naskah Perjanjian Kerja Sama (PKS) sebagai payung hukum kolaborasi.
Menurut Rektor, riset ini memiliki signifikansi yang besar bagi masyarakat lokal. “Satu hal yang menarik adalah dengan kegiatan atau kolaborasi bersama ini, kita akan bisa menjawab kegelisahan orang Papua hari ini tentang siapa sebenarnya leluhur yang berasal dari ras Melanesia atau dari rumpun Austronesia,” jelasnya.
Untuk mendukung kajian multidisiplin tersebut, UNIPA akan melibatkan ahli dari berbagai fakultas, termasuk Fakultas MIPA (Biologi dan Kimia), Fakultas Kehutanan, hingga Fakultas Sastra/Linguistik.

Sensitivitas Kultural dan Integrasi Kesehatan
Dalam pelaksanaan di lapangan, tim peneliti menyadari pentingnya menjaga sensitivitas kultural terhadap Orang Asli Papua (OAP). Prof. Herawati memaparkan bahwa riset akan mengedepankan etika bersosialisasi, seperti berdialog dan meminta izin kepada ketua adat setempat serta melewati prosesi upacara adat jika diwajibkan, sebelum melakukan pengambilan sampel secara sukarela.
Selain meneliti asal-usul genetik, riset ini juga mengintegrasikan unsur kesehatan. Tim peneliti berencana menggandeng dinas kesehatan, puskesmas lokal, serta Fakultas Kedokteran UNIPA yang berlokasi di Sorong. Keterlibatan pihak medis dinilai vital untuk menindaklanjuti temuan kesehatan responden di lapangan, seperti penemuan kasus penyakit tidak menular (misalnya diabetes atau hipertensi) yang kerap tidak disadari oleh warga.
Sementara itu, perwakilan program studi Biologi UNIPA, Ibu Irma, memberikan masukan terkait teknis pengambilan data responden. Ia mengingatkan bahwa UNIPA juga sedang memproses izin riset yang hampir serupa dengan peneliti dari Polandia. Oleh karena itu, perlu ada koordinasi data yang matang guna menghindari pengambilan sampel yang tumpang tindih pada responden yang sama, agar masyarakat tidak merasa tidak nyaman atau trauma.
Langkah kolaboratif ini turut mendapat dukungan penuh dari BRIDA Papua Barat. Kepala BRIDA, Charlie, berharap sinergi ini dapat mendorong peningkatan kapasitas peneliti lokal serta menghasilkan publikasi ilmiah bergengsi yang berdampak luas.


