Manokwari, Papua Barat. www.unips.ac.id – Australian Museum dan Global Wildlife Fund (GWF) bekerjasama dengan Fakultas MIPA Unipa dalam bidang penelitian sekaligus peningkatan kapasitas keilmuan dosen dan mahasiswa. Dekan Fakultas MIPA Unipa, Markus Heryanto Langsa S.Si., M.Sc., Ph.D., menyatakan bahwa selain kerjasama riset, scope work kerjasama ini juga mencakup penyediaan training untuk mahasiswa. Ia berharap para mahasiswa dapat mengikuti kegiatan training dan penelitian secara serius dan berkelanjutan. Profesor Training dari Australian Museum, Prof. Tim Flannery, telah memberikan ilmunya untuk para mahasiswa terutama metode koleksi, identifikasi, dan dokumentasi mamalia.

Sejak tanggal 15-20 Februari 2026 sebanyak 8 mahasiswa dari Fakultas Kehutanan, FKIP, dan FMIPA telah mengikuti Training Survei Mamalia di hutan dataran tinggi Pegunungan Arfak. Menurut Prof. Tim, dalam lima hari pelatihan para mahasiswa bisa belajar metode survei mamalia dan menemukan 18 spesies mamalia yang terdiri dari 10 spesies tikus, 7 marsupial (kuskus, posum dan bandikut) dan satu spesies kelelawar. “Untuk pertama kali training survei mamalia dilakukan di wilayah ini, hasilnya sangat fantastik termasuk catatan awal adanya spesies baru tikus raksasa dari Pegunungan Arfak” tambahnya.

Salah satu mahasiswa peserta training, Swingli Braba, menuangkan kesannya sebagai motivasi untuk semua peserta. “Selain menambah pengetahuan, pelatihan ini memberikan pengalaman baru terutama dalam berdiskusi bertukar pendapat dan bekerja sama dengan peserta lain, dari situ saya belajar bahwa setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda dan hal itu sangat memperkaya pengalaman saya”, ujar Swingli. Ketua tim, Dr. Keliopas Krey, menjelaskan bahwa dewasa ini masih sangat dibutuhkan kegiatan pembinaan Peneliti Muda Papua guna meningkatkan kapasitas keilmuan generasi muda di Tanah Papua. “Pelatihan survei seperti ini merupakan salah satu aksi nyata capacity building, sebagai upaya sistematis untuk memperkuat skill dan kemampuan mahasiswa supaya kelak mereka menjadi ujung tombak bagi riset-riset dasar terkait hayati Tanah Papua”. dari tanah Arfak untuk Sains, (m/i)
“Ilmu Untuk kemanusiaan”



