Kesenjangan peneliti OAP (Orang Asli Papua) dewasa ini sangat memprihatinkan. Lemahnya pengkaderan yang terencana dan terukur di lingkungan kampus maupun institusi pemerintah Indonesia menyebabkan adanya gap yang sangat dalam untuk memperbaiki dan mencetak peneliti OAP. Sudut pandang lain adalah bahwa efisiensi anggaran oleh pemerintah Indonesia diprediksi akan memangkas upaya nyata pemberdayaan dan peningkatan kapasitas keilmuan, rangsangan penelitian sains, hingga penciptaan ahli sains OAP baru. “Ceritera oral orang tua tentang laut, hutan, dan gunung hampir usang; tersisa suara pastoral riset ilmiah bagai lukisan Monalisa yang terus diperdebatkan tanpa henti.”
Menurut salah satu peneliti OAP dari Universitas Papua, Dr. Keliopas Krey, Sains boleh dikuasai Eropa, Amerika, dan Australia, namun pembobotan sains sendiri oleh OAP juga harus terungkap ke permukaan dunia sains itu sendiri. “Saya pikir Kementerian Pendidikan, Kementerian Keuangan, BRIN, dan lembaga-lembaga pemerintah lainnya bahkan NGO serta lembaga luar negeri harus memikirkan masa depan OAP dan Tanah Papua dengan lebih inklusif,” ujar Krey. Kapasitas OAP dalam riset ilmiah juga harus didukung oleh pendanaan dan partisipasi aktif para ahli, baik dari dalam maupun luar negeri, sehingga di masa depan tanah ini akan berisi para saintifik murni OAP yang memiliki kematangan berpikir logis, pemahaman universal yang mendalam tentang bumi Papua serta isinya, dan sains itu sendiri dijadikan norma global yang tidak semata-mata memiliki nilai politis, tetapi lebih fundamental dipergunakan untuk kemaslahatan umat manusia di dunia.

“Saya bermimpi, 20 hingga 50 tahun ke depan, ada ahli sains OAP yang dapat dengan gamblang menerangkan bukti-bukti empiris geografis Tanah Papua melalui pemahaman mendalam dan detail terkait geologi maupun biologi tentang unit geografi atau pulau mana pun di bentang alam Asia–Australia yang berbeda dengan Tanah Papua,” tambah Krey. (m/i)
“Ilmu Untk Kemanusiaan”



