Pelepasan Lulusan Sastra dan Budaya UNIPA: Kampus Dorong Akreditasi Unggul dan Tegaskan Pentingnya Ilmu Humaniora

Manokwari — Universitas Papua (UNIPA) menyelenggarakan acara yudisium bagi para lulusan program sarjana Fakultas Sastra dan Budaya. Acara pelepasan mahasiswa yang berlangsung di Aula Fakultas Sastra dan Budaya, Manokwari ini dihadiri secara langsung oleh Rektor UNIPA, jajaran pimpinan fakultas, para dosen, serta orang tua wisudawan.

Berdasarkan Surat Keputusan Dekan yang ditetapkan pada 19 Februari 2026, sejumlah mahasiswa dari jurusan Sastra Indonesia dan Sastra Inggris resmi dinyatakan lulus.

Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Sastra dan Budaya memaparkan bahwa saat ini fakultas tersebut menaungi jurusan Antropologi, Sastra Inggris, Sastra Indonesia, serta program Magister. Ia juga berpesan agar para alumni tidak segan untuk kembali ke kampus dan berkontribusi memberikan inspirasi bagi adik-adik tingkat yang masih berada di bangku kuliah.

Rektor UNIPA yang hadir dalam kesempatan tersebut memberikan apresiasi khusus atas capaian program studi Antropologi yang telah berhasil meraih akreditasi unggul. Rektor menjelaskan bahwa pencapaian ini sangat penting, karena jika minimal 25 persen program studi di UNIPA bisa mencapai peringkat unggul, hal tersebut akan secara otomatis mendongkrak akreditasi institusi secara keseluruhan.

Selain itu, Rektor menyinggung langkah strategis kampus yang sedang berproses menuju status Badan Layanan Umum (BLU) untuk mempermudah tata kelola kerja sama dan penelitian. Untuk menunjang kinerja akademik, pihak kampus juga telah menyediakan layanan percepatan jabatan bagi para dosen, termasuk bantuan biaya publikasi jurnal berbahasa Inggris serta pendampingan langsung dari para guru besar.

Dari sudut pandang wisudawan, perwakilan alumni menyampaikan pidato yang menggugah mengenai peran penting lulusan ilmu humaniora di era modern. Ia menekankan bahwa di saat dunia di luar sana mungkin dipenuhi oleh angka dan algoritma, dunia akan selalu membutuhkan cerita. Teknologi mungkin bisa menciptakan teks, tetapi teknologi tidak memiliki rasa sakit, kerinduan, dan empati.

Perwakilan alumni tersebut juga mengingatkan rekan-rekannya untuk terus memanusiakan manusia sesuai dengan slogan mereka, yakni “ilmu untuk kemanusiaan”. Menutup pidatonya, ia mengutip sajak puitis dari Sapardi Djoko Damono, sebagai pengingat bahwa ilmu dan persahabatan yang dirajut selama masa kuliah akan terus abadi menemani langkah mereka ke depan.