Manokwari, Papua Barat.– Dalam upaya menyamakan persepsi dan meningkatkan kualitas pendidikan, Universitas Papua (UNIPA) gelar Pralokakarya Kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE). Kegiatan ini menjadi langkah strategis universitas untuk menyelaraskan kerangka pembelajaran dengan kebutuhan dunia kerja, sekaligus menargetkan pencapaian akreditasi unggul di masa mendatang.
Rektor UNIPA dalam arahannya di hadapan para pimpinan fakultas dan program studi menekankan pentingnya kurikulum dan riset untuk kembali merujuk secara penuh pada Pola Ilmiah Pokok (PIP) universitas. “Kurikulum, penelitian, dan tujuan pembelajaran kita harus berakar pada pertanian, konservasi, dan budaya. Lulusan UNIPA harus secara spesifik mampu menjawab tantangan dan permasalahan daerah di tanah Papua,” tegasnya.

Di tengah upaya peningkatan kualitas tersebut, Wakil Rektor I Bidang Akademik menyoroti tantangan krusial institusi terkait efisiensi edukasi. Saat ini, tingkat kelulusan tepat waktu mahasiswa UNIPA tercatat baru mencapai persentase 17%. Menanggapi hal tersebut, jajaran rektorat mendesak seluruh fakultas untuk lebih proaktif dalam mengelola ekosistem akademik guna mencegah mahasiswa putus kuliah di tengah jalan.
Sesi utama pralokakarya diisi dengan presentasi draf struktur OBE dari berbagai fakultas, di antaranya Fakultas Kehutanan, MIPA, Pertanian, Teknik, dan Kedokteran. Pemaparan berfokus pada penetapan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) yang terukur dan pengintegrasian kearifan lokal ke dalam program studi.

Forum ini juga diwarnai diskusi hangat terkait kendala teknis di lapangan, terutama beratnya beban Satuan Kredit Semester (SKS) dari mata kuliah wajib nasional dan universitas. Tingginya beban wajib tersebut dikeluhkan pihak prodi karena membuat mahasiswa kesulitan menyelesaikan studi dalam kurun waktu empat tahun.
Sebagai solusi percepatan kelulusan dan pemenuhan prasyarat kerja praktik (minimal 110 SKS), forum sangat mendorong optimalisasi “semester antara” agar mahasiswa dapat mengambil mata kuliah teori yang dibutuhkan. Seiring dengan penerapan OBE, universitas juga didorong untuk menerapkan pendekatan “umpan balik dialogis” yang kolaboratif agar pemahaman dan pemikiran kritis mahasiswa dapat terbentuk dengan maksimal.
Pralokakarya ini resmi ditutup dengan menetapkan tujuh rekomendasi utama yang akan menjadi pedoman dalam penyusunan draf kurikulum final tingkat universitas. (m/i)
”Ilmu Untuk Kemanusiaan”



