Fakultas Kedokteran Universitas Papua Presentasikan Progres Kurikulum Baru Berbasis OBE dan Kedokteran Komunitas

SORONG, 5 Juni 2026 โ€“ Kunjungan kerja Rektor UNIPA Prof. Dr. Hugo Warami ke kampus II Fakultas Kedokteran UNIPA di Kabupaten Sorong Provinsi Papua Barat, yang didampingi oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Prof. Dr. Ir. Jonni Marwa, S.Hut., M.Si., IPU., diisi dengan agenda pemaparan progres penyusunan kurikulum baru berbasis Outcome-Based Education (OBE) oleh Medical Education Unit (MEU) Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Papua. Presentasi yang dibawakan oleh dr. Laura Putry Risty L. Tobing ini menyoroti sejumlah perubahan strategis untuk mencetak dokter layanan primer yang adaptif terhadap konteks sosial dan budaya lokal di Papua.

Peralihan Fokus Unggulan Kurikulum Terdapat perubahan mendasar pada orientasi dan keunggulan kurikulum FK Universitas Papua. Kurikulum lama yang sebelumnya berfokus pada Kedokteran Kelautan, Travel Medicine, dan Infeksi Tropis dengan pendekatan kuratif, kini sepenuhnya dialihkan menjadi Kedokteran Komunitas.

Menurut dr. Laura, peralihan ini dilakukan agar pendekatan medis menjadi lebih kontekstual dengan budaya Papua dan memiliki orientasi yang kuat pada upaya promotif dan preventif. Selain itu, fokus pada Kedokteran Komunitas dinilai lebih realistis untuk diimplementasikan mengingat ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM) pengajar yang lebih memungkinkan dibandingkan harus memenuhi spesifikasi SDM pada kurikulum lama. Visi utama fakultas ini ditargetkan tercapai pada tahun 2035, yakni menjadi fakultas yang mandiri dalam meningkatkan pelayanan kesehatan primer yang berorientasi pada budaya Papua.

Lima Profil Lulusan Dokter Universitas Papua Guna menjawab kebutuhan riil masyarakat dan fasilitas kesehatan primer, kurikulum baru dirancang untuk menghasilkan lulusan dengan lima profil utama:

  • Primary Care Physician: Dokter yang mampu memberikan layanan terintegrasi dengan penekanan promotif-preventif yang sesuai dengan konteks budaya Papua.
  • Adaptive Clinical Decision-Maker: Pengambil keputusan klinis yang tepat berbasis evidence-based medicine dengan mempertimbangkan keterbatasan sumber daya lokal.
  • Communicator: Mampu berkomunikasi secara empatik dan efektif dengan mempertimbangkan keberagaman bahasa dan nilai masyarakat Papua.
  • Community-Oriented Physician: Dokter yang menggunakan pendekatan komunitas untuk mengintervensi masalah kesehatan sesuai kebutuhan budaya lokal.
  • Health System Manager and Research-Utilizer: Dokter yang mampu memanfaatkan data riset dan kesehatan untuk meningkatkan mutu layanan di fasilitas primer.

Rencana masa studi untuk keseluruhan program ini ditargetkan selesai dalam waktu 7,5 tahun. Waktu tersebut terbagi atas Tahap Akademik (Sarjana) selama 4,5 tahun dengan beban 161 SKS, dan Tahap Profesi selama 2 tahun dengan beban 86 SKS.

Progres Penyusunan dan Peningkatan Mutu Langkah revisi kurikulum ini disusun berdasarkan analisis situasi mendalam yang melibatkan Focus Group Discussion (FGD) bersama stakeholder di wilayah Papua Barat dan Papua Barat Daya (2023-2024) serta pertemuan pilot project dengan Kementerian Kesehatan (2024).

Hingga saat ini, tahapan yang telah dilalui mencakup perumusan profil lulusan, penyelarasan Visi Misi Tujuan Sasaran (VMTS), hingga perumusan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL). Rencana selanjutnya meliputi penyusunan struktur kurikulum meso pada Juli hingga September 2026, dilanjutkan dengan perancangan pembelajaran blok pada Oktober hingga November 2026, dan evaluasi Sistem Penjaminan Mutu (SPM) pada Desember 2026.

Sebagai bentuk penguatan institusional menuju akreditasi “Unggul” pada 2035, pimpinan universitas juga memberikan arahan agar FK Universitas Papua segera mulai menggunakan sistem pelacakan digital SIJAMU. Penggunaan sistem ini diharapkan dapat mempermudah monitoring proses pembelajaran serta menjamin kualitas CPL dan evaluasi mahasiswa di setiap tahapan.