MANOKWARI – Universitas Papua (UNIPA) mengambil langkah strategis dengan membuka gerbang kampus bagi stabilisasi ekonomi daerah. Melalui Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta), UNIPA berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Papua Barat menggelar “Gerakan Pangan Murah Serentak Nasional”. Acara yang dihelat bersamaan dengan penyambutan semester genap tahun akademik 2025-2026 ini bukan sekadar seremonial, melainkan respons nyata terhadap isu inflasi dan kedaulatan pangan lokal.

Rektor UNIPA, Dr. Hugo Warami, S.Pd., M.Hum., menegaskan bahwa kegiatan ini adalah manifestasi sinergitas antara dunia kampus, pemerintah daerah, dan industri. “Kegiatan ini mendukung ‘Asta Cita’ Bapak Presiden Republik Indonesia tentang kemandirian pangan. Kita berdaulat, maka kita mesti memberdayakan pangan lokal,” ujar Hugo dalam sambutannya.
Strategi Menekan Inflasi: Dari Cabai hingga Ikan
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Papua Barat, Melkias Werinussa, S.E., M.H., yang hadir mewakili Gubernur, membedah tantangan ekonomi makro yang dihadapi daerah. Ia menyoroti bahwa inflasi bukan sekadar angka, melainkan indikator vital yang mempengaruhi daya beli masyarakat dan penetapan upah minimum.

Melkias mengungkapkan fakta menarik mengenai penyumbang inflasi di Papua Barat. “Komoditi yang menyumbang inflasi banyak termasuk rica (cabai). Rica ini kecil-kecil tapi penyumbang besar sekali untuk inflasi,” jelasnya. Selain itu, komoditas perikanan juga tercatat sebagai penyumbang angka inflasi tertinggi yang sulit diintervensi karena faktor cuaca.
Melalui Gerakan Pangan Murah ini, pemerintah melakukan intervensi pasar dengan memberikan subsidi, sehingga masyarakat dapat membeli kebutuhan pokok dengan harga di bawah pasar. Melkias menegaskan perbedaan kegiatan ini dengan operasi pasar biasa; Gerakan Pangan Murah melibatkan kolaborasi lintas sektor, termasuk Bank Indonesia dan distributor manufaktur, untuk menjaga stabilitas harga.
Redefinisi Pangan: Menggeser Dominasi Nasi
Isu fundamental yang diangkat dalam acara ini adalah ketergantungan pada beras. Melkias menyinggung bahwa preferensi menanam padi seringkali identik dengan transmigran, sementara potensi lokal Papua justru ada pada sagu dan umbi-umbian. “Orang Papua itu makanan aslinya sagu, kemudian ada petatas (ubi jalar),” ungkapnya.
Dampak Signifikan Bagi Mahasiswa dan Masyarakat

Bagi Mahasiswa: Laboratorium Kewirausahaan Nyata Acara ini menjadi ajang pembuktian bahwa mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas.
• Praktik Wirausaha: Koordinator kegiatan, Fitryanti Pakiding, Ph.D., menjelaskan adanya lomba “Menu Sehat Rp10.000”. Mahasiswa ditantang menciptakan menu bergizi dengan modal minim yang terjangkau bagi kantong mahasiswa. Ini melatih sense of business mereka secara langsung.
• Perubahan Mindset: Rektor UNIPA menekankan narasi “Kampus Murah” (SPP rendah) namun berkualitas, mendorong mahasiswa untuk tidak hanya bercita-cita menjadi pegawai, tetapi menjadi wirausahawan yang menciptakan lapangan kerja melalui hilirisasi produk pertanian.
• Akses Jejaring: Mahasiswa dipertemukan langsung dengan alumni sukses dan pelaku industri dalam sesi talkshow, membuka wawasan tentang dunia kerja dan potensi sektor pangan.Bagi Masyarakat Sekitar: Akses Ekonomi dan Edukasi Kehadiran kampus di tengah masyarakat menjadi lebih terasa nyata.
• Solusi Ekonomi Langsung: Masyarakat mendapatkan akses terhadap kebutuhan pokok dengan harga miring di tengah fluktuasi harga pasar.
• Edukasi Teknologi Pangan: Masyarakat diperkenalkan bahwa Fakultas Teknologi Pertanian bukan sekadar “sekolah masak”, melainkan pusat inovasi teknologi yang memiliki alat-alat canggih dan produk berpaten yang bisa dimanfaatkan untuk mengolah potensi lokal.
• Pemberdayaan UMKM: Pelaku UMKM lokal dilibatkan untuk mengisi stan, memberikan mereka pasar baru dan kesempatan mempromosikan produk lokal yang sudah dikemas dengan baik namun kurang promosi.



