Manokwari, Papua Barat. www.unipa.ac.id – Universitas Papua (UNIPA) menyelenggarakan Lokakarya Kurikulum bertajuk “Integrasi Kurikulum Berbasis Outcome-Based Education (OBE) dalam Membangun Ekosistem Akademik dan Riset UNIPA yang Berdampak”. Kegiatan strategis ini dilangsungkan di Aula utama selama dua hari, yakni pada 8 hingga 9 April 2026.
Lokakarya ini mempertemukan jajaran pimpinan di lingkungan UNIPA dengan para pemangku kepentingan eksternal, termasuk Pemerintah Provinsi Papua Barat, dinas-dinas terkait tingkat provinsi dan kabupaten, para alumni, serta perwakilan pengguna lulusan.

Rektor UNIPA, Prof. Dr. Hugo Warami, dalam sambutan pembukaannya menegaskan bahwa lokakarya ini merupakan langkah fundamental untuk memperbaiki, merevisi, dan menata ulang kurikulum di seluruh program studi.
“Penataan kurikulum ini dirancang untuk menghasilkan lulusan yang siap pakai dan sejalan dengan Pola Ilmiah Pokok (PIP) Universitas Papua, yaitu Pertanian, Konservasi, dan Budaya. Kita perlu menyinergikan kurikulum kita dengan visi Provinsi Papua Barat sebagai Provinsi Berkelanjutan,” ujar Prof. Hugo.

Satu poin krusial yang akan dibahas dalam lokakarya ini adalah respons UNIPA terhadap kebutuhan tata kelola pemerintahan daerah. Merujuk pada arahan Gubernur Papua Barat, UNIPA diminta untuk mengakomodasi program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di wilayah tersebut.
“Bapak Gubernur menyoroti adanya fenomena kekosongan jabatan dalam lelang jabatan daerah karena banyak ASN yang belum memenuhi syarat kepangkatan akademik—banyak yang masih berijazah SMA atau sederajat, bahkan tertahan hingga menjelang masa pensiun di golongan tertentu,” ungkap Rektor.
Oleh karena itu, penyusunan kurikulum kali ini diwajibkan untuk mengakomodasi skema RPL. Skema ini akan memungkinkan ASN dari berbagai instansi untuk melanjutkan studi yang linier di fakultas-fakultas terkait di UNIPA. Saat ini, Badan Kepegawaian Daerah (BKD) dan Dinas Pendidikan Provinsi tengah menyiapkan data komprehensif terkait ASN yang membutuhkan program afirmasi tersebut.
Untuk memastikan kualitas luaran lokakarya, UNIPA turut menghadirkan dua pakar kurikulum dari Universitas Jember (UNEJ) dan Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) guna memberikan penilaian dan masukan objektif terhadap draf kurikulum yang disusun.
Prof. Hugo Warami menegaskan tujuan akhir dari seluruh upaya akademik ini. “Semoga lokakarya ini berkontribusi besar dalam mendukung peningkatan Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (AIPT) UNIPA, dari predikat ‘Baik Sekali’ menuju ‘Unggul’. Pasca-lokakarya, kami akan menyelenggarakan program khusus bagi 24 program studi yang telah siap menuju predikat unggul. Ini adalah ikhtiar bersama untuk mengangkat wibawa UNIPA sebagai universitas bermartabat di kawasan Indonesia Timur,” tutupnya. (m/i)
”Ilmu Untuk Kemanusiaan”



