MANOKWARI – Tiga mahasiswa Universitas Papua (UNIPA) sukses menorehkan kebanggaan dan membawa misi penting dalam ajang Pemilihan Duta Bahasa tahun 2026 yang diselenggarakan di Jayapura. Ketiga delegasi tersebut tidak hanya tampil memukau, tetapi dua di antaranya berhasil membawa pulang gelar juara.
Dalam kompetisi tingkat provinsi ini, para peserta bertugas sebagai representasi generasi muda untuk mengkampanyekan “Trigatra Bangun Bahasa”, yaitu mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing.

Inovasi Digital dan Semangat Calon Pendidik
Pencapaian luar biasa diraih oleh Welmina Putnarubun, mahasiswa program studi Manajemen dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Ia berhasil meraih Juara 2 dalam ajang bergengsi ini. Pada malam puncak, Welmina memukau juri dengan gagasan inovasinya yang bertajuk “Bercetak Digital” (Berbahasa Cerdas, Beretika, dan Beridentitas). Program ini menargetkan Generasi Z agar lebih beretika saat berkomentar di media sosial, khususnya di platform seperti TikTok. Selain itu, ia juga mencatatkan skor Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) yang unggul di angka lebih dari 500 serta memamerkan bakat tarian campuran Nusantara dari Maluku dan Papua.

Prestasi membanggakan lainnya disumbangkan oleh Keisha Ingrid Priscylla Lalang, mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Keisha berhasil mengamankan posisi Juara 4. Sebagai calon guru, Keisha membawa motivasi luhur untuk mengajak murid-muridnya kelak agar terus mempelajari dan melestarikan bahasa ibu di tengah gempuran era globalisasi. Ia menceritakan ketatnya masa karantina selama 4 hari di Jayapura, di mana para peserta ditempa kedisiplinannya, dilatih kemampuan public speaking, dan dibekali materi pengenalan karakter.

Pelestarian Bahasa Tanpa Pandang Latar Belakang
Selain Welmina dan Keisha, delegasi UNIPA juga diwakili oleh Ismail Suhendri Purba, mahasiswa semester 6 dari program studi Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Budaya. Mengikuti kompetisi ini untuk memperkuat portofolionya menuju jenjang S2, Ismail membawa pesan toleransi dan asimilasi yang kuat.
Meski berstatus sebagai pendatang berdarah Batak, Ismail yang bermukim di Numfor ini turut menguasai sedikit bahasa Biak karena terbiasa dengan lingkungan yang aktif menggunakan bahasa daerah tersebut dalam keseharian. Ia menyoroti urgensi pelestarian bahasa, mengingat saat ini terdapat 428 bahasa daerah di Papua yang masih eksis.

Langkah Lanjutan dan Pesan untuk Mahasiswa UNIPA
Sesuai dengan regulasi kompetisi, peserta yang telah meraih gelar juara tidak diperkenankan untuk mengikuti perlombaan di tahun-tahun berikutnya guna memberikan kesempatan kepada peserta lain. Namun, para juara ini nantinya akan dilibatkan sebagai panitia penyelenggara Duta Bahasa.
Di akhir wawancara, ketiga mahasiswa ini kompak menyampaikan pesan penting bagi seluruh pemuda-pemudi di tanah Papua, khususnya mahasiswa UNIPA. Mereka mengajak generasi muda untuk terus menjaga nilai budaya Papua , melestarikan bahasa daerah lokal sebagai jati diri bangsa , serta menggunakan kaidah bahasa yang baik dan beretika saat berselancar di media sosial


