TIM “AMBERY” TEKNIK PERTAMBANGAN UNIPA TAKLUKKAN KETERBATASAN, RAIH JUARA DI AJANG ISMC KE-15 ITB

Manokwari, Papua Barat. www.unipa.ac.id  Mengawali tahun dengan semangat yang membara, tim mahasiswa Teknik Pertambangan Universitas Papua (UNIPA) yang tergabung dalam tim “Ambery” menorehkan prestasi yang tak sekadar membanggakan—tetapi juga menyentuh. Mereka berhasil meraih Juara 3 pada lomba Rock Drill dalam ajang Indonesian Student Mining Competition (ISMC) ke-15 yang diselenggarakan di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Februari lalu.

Kemenangan ini diraih dalam kondisi yang tidak mudah. Di tengah keterbatasan fasilitas latihan dan tantangan fisik yang menuntut lebih dari sekadar teori, “Ambery” tetap berjalan, tetap bertahan, dan akhirnya sampai di podium. Bukan karena persiapan yang sempurna, melainkan karena mental yang kuat dan keyakinan bahwa mimpi anak Papua layak berpijak di panggung dunia.

Perjalanan tim yang berjumlah tujuh peserta, didampingi satu manajer, satu tim dokumentasi, serta Dosen Pendamping Andrew Fideriko Karubaba, menjadi cerita pengorbanan yang panjang. Mereka berangkat dari Manokwari pada 29 Januari, menempuh perjalanan laut menggunakan kapal kelas ekonomi (non-seat) selama lima hari empat malam menuju Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, sebelum melanjutkan perjalanan dengan kereta api selama sepuluh jam ke Bandung.

Seluruh langkah itu direalisasikan secara mandiri melalui iuran himpunan, dukungan Fakultas dan Program Studi, serta donasi alumni dan pihak swasta dari Bintuni. Di sinilah letak harunya: setiap jarak yang ditempuh bukan semata soal logistik, tapi soal tekad—bahwa kesempatan harus diraih, meski harus dipeluk dengan susah payah.

Sesampainya di arena kompetisi, tim UNIPA menghadapi realitas bahwa ISMC adalah panggung berskala internasional. Partisipan datang dari berbagai tempat, bahkan hingga dari Australia. Rangkaian lomba pun menuntut kemampuan teknis sekaligus kemampuan komunikasi, karena seluruh tes—mulai dari studi kasus hingga presentasi teknis—mengharuskan penggunaan bahasa Inggris. Kendala bahasa sempat menjadi tekanan psikologis yang berat bagi sebagian peserta.

Belum lagi tantangan cuaca: kota Bandung menyuguhkan dingin ekstrem yang memicu culture shock. Beberapa anggota tim tumbang karena kondisi fisik yang tidak biasa, bahkan ada yang mengalami hipotermia saat mengikuti lomba orienteering di Taman Hutan Raya. Namun, “Ambery” tidak memilih untuk berhenti. Mereka memilih untuk bertarung sampai tuntas.

Di balik rintangan yang begitu nyata, mahasiswa UNIPA justru menunjukkan kualitas yang sulit dibantah. Tim “Ambery” merebut podium pada lomba Rock Drill, sebuah kompetisi yang menuntut ketahanan fisik luar biasa untuk mengoperasikan alat bor seberat 50 kilogram dengan tekanan kompresor tinggi. Yang lebih membanggakan, mereka berhasil meraih kemenangan pada kategori tersebut tanpa pernah melakukan persiapan langsung menggunakan alat yang sebenarnya di kampus.

Mereka belajar dari keterbatasan, membangun teknik dari sisa-sisa latihan, dan akhirnya membuktikan bahwa ketekunan bisa menembus jarak.

Dosen Pendamping Andrew Fideriko Karubaba menegaskan harapan yang mengakar dalam perjalanan ini.

“Harapan saya, kita siap sampai dua tahun lagi kita ke sana harus menang, supaya jangan banyak anak Papua minder lagi.”

Prestasi Tim “Ambery” adalah bukti bahwa keterbatasan tidak selalu berarti kegagalan. Kadang, keterbatasan justru melahirkan mental baja—membuat anak Papua belajar lebih keras, melangkah lebih jauh, dan akhirnya bersinar di kancah global.

Terima kasih, “Ambery”. Nama UNIPA dan semangat anak Papua kini tidak lagi hanya didengar—tapi sudah terukir di podium. (m/i)

”Ilmu Untuk Kemanusiaan”